Home / Berita / PH Korban Perkosaan di Kec. Sekampung Meminta Media Hati-hati Memberitakan

PH Korban Perkosaan di Kec. Sekampung Meminta Media Hati-hati Memberitakan

Sukadana, hukum1926.id – Penasihat hukum (PH) perempuan warga Sambikarto, Kecamatan Sekampung, Lampung Timur yang menjadi korban perkosaan, membantah keterangan PH terduga pelaku. Ini disampaikan Masyhuri Abdullah dan Eko Agus Priyatno, saat ditemui di Polres Lampung Timur, di Sukadana, Rabu (25/8).

Keduanya hadir dalam pra rekonstruksi kejadiaan perkosaan yang dilakukan di unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Lampung Timur. Kasus perkosaan ini sendiri ditangani oleh pihak Polsek Sekampung. Korban melaporkan kejadian perkosaan yang dialaminya tidak lama setelah kejadian di Polsek Sekampung tanggal 2 Agustus lalu. Korban melaporkan 3 orang pelaku yang memperkosanya di sebuah rumah.

Sebelumnya PH ketiga terduga pelaku memberikan keterangan kepada pers jika kliennya melakukan hubungan badan dengan korban atas dasar suka sama suka. Bahkan korban dikatakan sebelumnya pernah melakukan threesome dengan kliennya.

Menanggapi keterangan PH terduga pelaku tersebut, Masyhuri Abdullah hanya tersenyum. Dia malah lantas bertanya: “pernah dengar tidak anekdot, kalau maling ngaku maka penjara penuh”? Masyhuri menambahkan tidak ambil pusing dengan keterangan PH pelaku tersebut. Menurutnya dengan sudah ditingkatkannya perkara ke penyidikan, artinya penyidik berkeyakinan ada kejadian perkosaan tersebut.

Masyhuri menambahkan demi melindungi hak-hak korban dan keluarganya, pihaknya meminta pers lebih hati-hati dalam membuat pemberitaan. Menurutnya itu perlu agar tidak semakin menimbulkan kesedihan mendalam di diri korban dan keluarganya. Pihaknya juga tidak akan segan melakukan proses hukum kepada siapapun yang membuat keterangan yang mengada-ada dan menyudutkan korban.

Sementara itu Eko Agus menambahkan jika kliennya di waktu kejadian menolak dijemput oleh suruhan terduga pelaku untuk menemui pelaku inisial W di rumah yang menjadi TKP. Karena korban menolak, akhirnya dibuat siasat orang suruhan tersebut membeli tungku dari warung koban. Selanjutnya karena sulit membawa tungku sendirian memakai motor maka korban diminta membantu ikut mengantar. Sesampai di rumah tempat tungku diantar, di situ rupanya para pelaku sudah menunggu, sampai kemudian terjadilah kejadian perkosaan.

Eko Agus mengatakan dari kronologis seperti itu jelas tidak mungkin kalau kejadian tersebut dikatakan persetubuhan suka sama suka. “Kalau suka sama suka, ditelpon aja pasti datang, tidak perlu pake skenario beli tungku”, tegasnya. Menurut Eko Agus sekarang tinggal penyidik diberikan keleluasaan untuk menyelesaikan berkas perkara ini dan langsung menahan para pelaku. “Soal ada atau tidaknya perkosaan biar persidangan nanti yang membuktikan”, tutupnya.

About admin-hukum1926

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

6 + 2 =