Home / Artikel / Penerbangan Delay, Ini Kompensasi Untuk Penumpang

Penerbangan Delay, Ini Kompensasi Untuk Penumpang

hukum1926.idBagi anda yang melakukan perjalanan dengan pesawat udara, tentunya harus mengerti hak-haknya jika pesawat mengalami keterlambatan keberangkatan. Hak-hak anda dijamin dalam Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) RI Nomor PM 89 Tahun 2015 tentang Penanganan Keterlambatan Penerbangan (Delay Management) Pada Badan Usaha Angkutan Udara Niaga Berjadwal di Indonesia.

Terdapat 6 kategori keterlambatan penerbangan yang diatur dalam Pasal 3 Permenhub PM 89 Tahun 2015, yakni:
– Kategori 1, keterlambatan 30 menit s.d 60 menit;
– Kategori 2, keterlambatan 60 menit s.d 120 menit;
– Kategori 3, keterlambatan 120 menit s.d 180 menit;
– Kategori 4, keterlambatan 180 menit s.d 240 menit;
– Kategori 5, keterlambatan lebih dari 240 menit; dan
– Kategori 6, pembatalan penerbangan.

Untuk keterlambatan yang disebabkan manajemen maskapai, penumpang wajib diberikan kompensasi. Faktor yang disebabkan manajemen maskapai ini meliputi (1) keterlambatan pilot, co pilot, dan awak kabin; (2) keterambatan jasa boga (catering); (3) keterlambatan penanganan di darat; (4) menunggu penumpang, baik yang baru melapor (check in), pindah pesawat (transfer), atau penerbangan lanjutan (connecting flight); dan (5) ketidaksiapan pesawat udara.

Kompensasi yang diberikan untuk penumpang yang mengalami keterlambatan penerbangan yakni (Pasal 9):
– Keterlambatan 30 menit s.d 60 menit, kompensasi berupa minuman ringan;
– Keterlambatan 60 menit s.d 120 menit, kompensasi berupa minuman dan makanan ringan (snack box);
– Keterlambatan 120 menit s.d 180 menit, kompensasi berupa minuman dan makanan berat (heavy meal);
– Keterlambatan 180 menit s.d 240 menit, kompensasi berupa snack box dan heavy meal;
– Keterlambatan lebih dari 240 menit, kompensasi berupa ganti rugi Rp 300 ribu;
– Pembatalan penerbangan, kompensasi berupa pengalihan ke penerbangan berikutnya atau penggantian   seluruh tiket.

Lihat:http://permenhub-ri-nomor-pm-89-tahun-2015-tentang-penanganan-keterlambatan-penerbangan-delay-management-pada-badan-usaha-angkutan-udara-niaga-berjadwal-di-indonesia

Selain itu untuk keterlambatan di atas 6 jam dan penumpang membutuhkan tempat penginapan, maka pihak airline wajib menyediakan akomodasi. Dan jika pihak airline tidak memberikan kompensasi sesuai ketentuan, maka penumpang dapat mengajukan gugatan perbuatan melawan hukum kepada pihak maskapai di pengadilan negeri.

Sedangkan faktor di luar manajemen airline meliputi faktor teknis operasional, faktor cuaca, dan faktor lain-lain. Faktor teknis operasional meliputi (1) bandar udara keberangkatan dan tujuan tidak dapat dipergunakan; (2) lingkungan menuju bandar udara atau landasan terganggu fungsinya misalnya retak, banjir atau kebakaran, (3) antrian pesawat take off, landing, alokasi waktu keberangkatan, atau (4) keterlambatan pengisian bahan bakar.

Faktor cuaca meliputi hujan lebat, banjir, petir, badai, kabut, asap, jarak pandang di bawah standar minimal, kecepatan angin melebihi standar maksimal. Sedangkan faktor lain-lain misalnya adanya kerusuhan atau demonstrasi di bandar udara.

Untuk keterlambatan penerbangan yang diakibatkan faktor di luar manajemen maskapai, maka pihak maskapai diwajibkan menginformasikannya dengan bukti surat keterangan resmi dari instansi terkait. (red)

About admin-hukum1926

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

+ 55 = 61