Home / Artikel / Jerinx VS Via Vallen, Sensasi Peluncuran Abum Baru SID?

Jerinx VS Via Vallen, Sensasi Peluncuran Abum Baru SID?

hukum1926.id – Saat ini jagad pecinta musik Indonesia lagi ramai permasalahan antara Jerinx dan Via Vallen. Pemicunya, Jerinx, drummer grup punk Superman is Dead (SID), nge- twit tentang penggunaan lagu Sunset di Tanah Anarki (SDTA) milik SID. Via, memang termasuk yang menyanyikan ulang (cover) lagu SDTA. Via Vallen menyanyikan lagu SDTA dengan genre dangdut koplo. Tidak hanya membawakannya di panggung, cover lagu SDTA juga ada di youtube.

Di akun twitter @JRX_SID, Jerinx beberapa kali melakukan twit yang ditujukan ke Via Vallen. Twitnya antara lain: “ Tanpa Sunset di Tanah Anarki, Vallen ga akan ada di posisinya saat ini”. Juga: “Ngefans tapi sama sekali ga pernah minta ijin bawain lagu SID. Dan lagu ini pesannya besar. Vallen paham gak apa yg ia nyanyikan? Ini bukan ttg nominal. She’s DEGRADING the meaning of the song”.

Twit Jerinx lainnya: “Exactly. But then again, money is not my objective. Anyone can cover it SELAMA dilakukan dengan itikad baik, bagi sejarah, sesama & masa depan bangsa. Jika hanya utk perkaya diri, then she’s no different than a fucking whore”.

Menanggapi cuitan dari Jerinx, Via Vallen menyampaikan permohonan maaf di akun instagramnya, dan menjelaskan bahwa dia tidak ada niat merusak ruh lagu SDTA yang dinyanyikannya di panggung off air dengan genre musiknya. Via Vallen juga mengklarifikasi bahwa dia tidak melakukan komersialisasi lagu SDTA baik melalui VCD maupun youtube, karena kemungkinan itu dilakukan orang lain yang mendokumentasikan saat dia nyanyikan di panggung. Via juga mengatakan cover di akun youtube official bukan ditujukan untuk uang atau komersil, karena dia belum pernah mendapatkan penghasilan dari akun youtube tersebut.

Dalam permohonan maafnya, Via Vallen juga mengakui kesalahannya, karena tidak meminta izin terlebih dahulu dari pihak SID saat menyanyikan lagu SDTA. Dan dia mengkalirifikasi bahwa tidak ada tujuan memperkaya diri dengan menyanyikan lagu dari SID.

Tanggapan netizen atas cuitan Jerinx

Cuitan yang dilakukan Jerinx yang ditujukan kepada Via Vallen memicu perdebatan. Ada yang mendukung, tapi banyak pula yang mengecam terlebih penggunaan diksi a fucking whore. Mereka yang mendukung intinya mengecam tindakan pelanggaran hak cipta karena Via Vallen telah menyanyikan lagu tanpa izin pemiliknya. Tapi tidak sedikit juga mempertanyakan kenapa baru sekarang Jerinx menyampaikan protes, padahal Via Vallen sudah menyanyikan lagu itu sejak lama. Bahkan ada yang sinis, protes Jerinx hanyalah berupa gimmik untuk menaikkan popularitas karena SID baru meluncurkan album barunya, Tiga Perampok Senja, yang baru dirilis 9 November 2018.

Saya sendiri dalam hal ini akan menanggapinya dari sudut pandang hukum tentunya.

Undang-undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta, salah satunya mengatur hak cipta di bidang musik atau seni. Hak cipta dalam undang-undang ini diartikan sebagai hak eksklusif pencipta yang timbul otomatis berdasarkan prinsip deklaratif setelah suatu ciptaan diwujudkan dalam bentuk nyata. Artinya tanpa perlu didaftarkan kepada pemerintah sekalipun, hak cipta tersebut sudah melekat kepada penciptanya.

Hak ekslusif yang dimiliki penciptanya berupa hak moral dan hak ekonomi. Dalam pasal 5 ayat (1) UU Hak Cipta, hak moral berarti penciptanya berhak mencantumkan atau tidak namanya, sehubungan pemakaian ciptaannya untuk umum. Juga hak untuk menggunakan nama alias atau samaran, hak mengubah ciptaannya, hak mengubah judul atau anak judul. Selain itu juga berhak mempertahankan haknya dalam hal adanya distorsi, mutilasi, dan modifikasi ciptaan, atau hal yang bersifat merugikan kehormatan diri atau reputasinya.

Sementara hak ekonomi berarti hak yang eksklusif yang dimiliki penciptanya untuk mendapatkan manfaat ekonomi atas ciptaan. Dalam Pasal UU Hak Cipta, hak ekonomi ini meliputi penerbitan ciptaan, penggandaan, penerjemahan, pengadaptasian atau pengaransemenan atau pentransformasian, pendistribusian, pertunjukan, pengumuman, komunikasi, dan penyewaan ciptaan.

Menyanyikan ulang lagu milik orang lain yang diatur dalam UU Hak Cipta adalah terkait dengan hak ekonominya. Dalam Pasal 9 ayat (2) dijelaskan yang melaksanakan hak ekonomi terhadap hak cipta orang lain, termasuk dalam hal ini menyanyikan ulang atau membuat cover digital/mengunggah di youtube, wajib mendapatkan izin dari pencipta. Artinya jika yang menyanyikan ulang lagu (cover) tidak mendapatkan keuntungan ekonomi secara langsung dari lagu tersebut, dibebaskan dari kewajiban sebagaimana diatur dalam UU Hak Cipta.

Bagi pihak-pihak yang diwajibkan mendapatkan izin atau membayar royalti kepada penciptanya, tapi tidak melakukan hal tersebut, dapat dikenakan hukuman baik secara perdata maupun pidana. Hukuman pidana yang dapat dikenakan yakni di Pasal 113 ayat (2), pidana penjara maksimal 3 tahun dan/atau denda maksimal Rp 500 juta, juncto Pasal 113 ayat (3) dengan pidana penjara maksimal 4 tahun dan/atau denda maksimal Rp 1 miliar.

Sementara tuntutan ganti rugi secara perdata dapat dilakukan melalui pengadilan niaga. Dan tuntutan perdata ini tidak menghapus tuntutan pidananya.

Meski demikian, di dalam UU Hak Cipta, penyelesaian sengketa atas pelanggaran hak cipta (kecuali pembajakan) harus didahulukan penyelesaian melalui mediasi sebelum melakukan tuntutan pidana. Proses pidananya juga harus berdasarkan laporan pihak yang dirugikan, karena termasuk dalam delik aduan.

Lantas, terhadap kasus Via Vallen yang menyanyikan ulang lagu SDTA dengan aransemen dangdut koplo, bagaimana tinjauan hukumnya.

Mengacu kepada klarifikasi yang dilakukan Via Vallen, lagu SDTA yang dia nyanyikan adalah saat acara-acara di panggung pertunjukan off air, di tempat hajatan atau lapangan terbuka. Dalam hal ini, umumnya panitia penyelenggara membayar paket hiburan ke pimpinan orkes musik, dan seorang penyanyi mendapatkan bayaran dari pimpinan orkes musik.

Sementara untuk publikasi di youtube, Via Vallen mengklarifikasi bahwa publikasi secara digital untuk suatu pertunjukan bisa saja dilakukan oleh panitia penyelenggara atau penonton. Dalam hal ini pihaknya tidak dapat mengkontrol pihak lain yang melakukan publikasi di youtube atas rekaman pertunjukannya. Dia juga tidak mendapatkan keuntungan ekonomi atas publikasi tersebut.

Sedangkan untuk akun youtube official, menurut Via Vallen pihaknya tidak pernah mengambil keuntungan ekonomi, yang menurutnya bisa dikonfirmasi langsung ke pihak youtube. Tentunya atas klarifikasi ini, Jerinx dapat saja melakukan penelusuran lebih lanjut untuk melakukan pembuktian hukum.

Berdasarkan keterangan Via Vallen ini, pihaknya dapat dibebaskan dari tuntutan hukum atas penggunaan lagu SDTA dalam penampilan panggungnya. Karena Via Vallen tidak mendapatkan keuntungan ekonomi secara langsung dari lagu SDTA yang dia nyanyikan.

Mengenai Via Vallen menjadi populer karena lagu SDTA, dan imbasnya mendapatkan keuntungan ekonomi, tentunya hal itu terlalu berlebihan. Popularitas Via Vallen tentunya karena istiqomahnya di jalur pop dangdut koplo, dari pangggung ke panggung meski di acara hajatan di kampung-kampung. Dan mengenai lagu yang paling populer dibawakan Via Vallen, tentunya lagu “Sayang” lah yang lebih membuatnya populer. Bahkan pemilik asli lagu Sayang pun kalah populer.

Meski demikian, etikanya Via Vallen menyampaikan permintaan izin atas penggunaan lagu SDTA dalam penampilannya panggungnya. Ini merupakan bentuk penghargaan atas jerih payang seseorang menghasilkan karya cipta.

Akan tetapi memang, karena untuk memenuhi request dari penonton, terkadang sulit untuk melakukan permintaan izin dari pencipta terhadap permintaan yang spontan di atas panggung. Dan untuk hal tersebut Via Vallen sudah mengakui kelalaiannya, dan menyampaikan permohonan maaf.

Mengenai protes yang dilakukan Jerinx terhadap Via Vallen, seharusnya jika memang ditujukan untuk melindungi hak cipta sebagai peringatan terhadap pihak-pihak yang menggunakan lagu tanpa izin penciptanya, Jerinx dapat menempuh proses hukum, misalnya dengan melayangkan teguran atau somasi, tidak sekedar protes di media sosial. Atau juga dapat dilakukan dengan mengumumkan ke publik pelarangan penggunaan lagu milik SID untuk kepentingan apapun tanpa izin dari SID. Dan jika menggunakan lagu tanpa izin, dapat dikenakan tuntutan hukum.

Sehingga wajar jika protes yang dilakukan Jerinx, dianggap banyak pihak hanya sebagai gimmik untuk menaikan popularitas, terlebih dilakukan berbarengan dengan peluncuran album baru SID. Meski Jerinx mengklarifikasinya dengan menyatakan bahwa itu sebagai upaya teguran, agar ke depan tidak ada pihak-pihak yang menggunakan lagunya, khususnya di album baru tanpa izin.

Bagi saya, jika ini sebagai teguran agar lagu-lagu di album barunya tidak dipergunakan pihak lain tanpa izin, akan lebih baik jika diumumkan pelarangan secara resmi. Dan bagi yang tidak mengindahkannya, dapat dikenakan sanksi hukum. Ketimbang dengan menggunakan protes di media sosial dengan hanya menyasar Via Vallen yang dianggapnya sebagai yang terpopuler di aliran musik dangdut koplo saat ini. Tentunya menjadi pertanyaan kenapa hanya Via Vallen yang disasar, karena dari penelusuran di youtube, cukup banyak yang menggunakan lagu SDTA dengan genre dangdut koplo di penampilan panggung.

Apalagi protes Jerinx tersebut menggunakan kata a fucking whore atau dapat diartikan pelacur sialan, yang menurut Via Vallen telah melukai hatinya sebagai seorang perempuan. Bisa saja Via Vallen sendiri melakukan tuntutan hukum pidana pencemaran nama baik dengan dasar UU Informasi dan Transmisi Elektronik (ITE).

Mengenai penggunaan lagu SDTA dengan genre dangdut koplo yang dianggap Jerinx telah merusak ruh lagu, saya rasa hal tersebut terlalu berlebihan. Jerinx menyatakan lagu itu didedikasikan untuk perjuangan aktivis semisal almarhum Munir dan Marsinah, juga perjuangan penolakan reklamasi Teluk Benoa. Ketika dinyanyikan dengan musik dangdut koplo, menurutnya pesan atas lagu tersebut tidak tersampaikan.

Hal tersebut tentunya patut diperdebatkan. Karena untuk lagu “darah juang” yang menjadi semacam lagu wajib aktivis sejak era 80-an, penciptanya juga tidak protes ketika dinyanyikan dengan berbagai versi aliran musik. Karena dari lyrik lagu darah juang sudah jelas pesan perjuangannya tersampaikan.

Untuk mengatasi kekhawatiran ruh atau pesan dari sebuah lagu milik SID tidak tersampaikan, kalau saya usul dapat diatasi dengan pengumuman dari SID, bagi siapapun yang ingin menyanyikan lagu miliknya, harus menyampaikan lebih dulu kepada publik mengenai kandungan pesan atas lagu tersebut. Atau kalau perlu melarang lagunya dinyanyikan dengan genre musik tertentu, jika khawatir ruh lagunya rusak.

Atau saran saya, jika memang Jerinx seorang aktivis, dan peduli dengan orang pinggiran, saran saya bebaskan saja lagu-lagu SID untuk dinyanyikan penyanyi dangdut koplo, yang kebanyakan berjuang dari pinggiran, dari kampung ke kampung, di acara pernikahan atau khitanan. Anggap saja bentuk kontribusi terhadap kemunculan artis-artis baru yang mengais rezeki dari nol, dengan bayaran ratusan ribu dan berharap tambahan saweran dari penonton.

Dan jika mereka sudah tenar seperti Via Vallen, suruh saja mendonasikan sebagian rezekinya ke lembaga kemanusiaan yang dikelola Jerinx. Menurut saya, ini lebih jelas, ketimbang melontarkan protes yang bernuansa makian, di tengah musim pemilu yang sudah penuh dengan aroma makian.

*Masyhuri Abdullah
Advokat di Lawfirm Mawardi & Partners, dan Ketua LBH Nahdlatul Ulama (NU) Lampung Timur

About admin-hukum1926

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

+ 5 = 12