Home / Berita / Pengacara Korban Tidak Terima, PH Dosen Cabul Sudutkan Korban

Pengacara Korban Tidak Terima, PH Dosen Cabul Sudutkan Korban

Hery Rio Saputra, SH, dan Peni Wahyudi, SH, pengacara korban (DCL) dari DAMAR

Bandar Lampung, Hukum1926.id – Persidangan perkara dugaan pencabulan yang dilakukan oleh oknum dosen Universitas Lampung (UNILA), Chandra Ertikanto terhadap DCL, mahasiswi bimbingannya, di Pengadilan Negeri (PN) Tanjungkarang masih terus bergulir. Pada persidangan Senin, (29/10/2018), telah dilaksanakan pemeriksaan terhadap terdakwa. Di persidangan sebelumnya, telah dilaksanakan juga pemeriksaan terhadap saksi fakta maupun ahli. Selanjutnya persidangan akan dilanjutkan lagi pada hari Kamis, tanggal 2/11/2018, dengan agenda saksi adcharge dari terdakwa.

Hery Rio Saputra, SH dan Peni Wahyudi SH, kuasa hukum korban dari Lembaga Advokasi Perempuan DAMAR mengatakan, pihaknya sudah menduga di persidangan terdakwa akan menyangkal seluruh dakwaan jaksa penutut umum (JPU). Ini disampaikan saat ditemui hukum1926.id di kantornya di Bandar Lampung, (30/10/2018). Menurut Hery Rio, terdakwa juga tidak mengakui jika telah melakukan pelecehan seksual, dengan mengarang cerita yang tidak benar.

Sementara itu Peni Wahyudi menjelaskan, saat ini sudah beredar informasi di media melalui penasehat hukum terdakwa, yang menyatakan tidak ada yang melihat dan mendengar kejadian pecabulan yang dilakukan Chandra. Kejadian pencabulan disebut hanyalah cerita dari saksi korban DCL. Peni menambahkan sekarang beredar informasi yang menyudutkan korban DCL, yang saat proses bimbingan sempat bertanya kepada terdakwa mengenai “harga” agar tugas akhir cepat selesai. “Jadi seolah-olah dalam proses bimbingan, yang bermasalah itu korban DCL, bukan terdakwa”, ujar Peni.

Ini menurut Peni harus diluruskan, karena merupakan cerita karangan untuk menyudutkan korban. Bahkan menurut Peni, sesudah terdakwa diganti sebagai dosen pembimbing, DCL dapat menyelesaikan skripsinya dengan nilai baik.

Selanjutnya Hery Rio menambahkan dalam perkara pencabulan memang kerap kali kesulitan mencari saksi yang melihat. “Pada umumnya kan perkara pelecehan atau kekerasan seksual itu di ruang tertutup, jadi susah membuktikannya lewat saksi yang melihat langsung”, terang Rio. “Tapi dalam kasus dosen Chandra, telah dihadirkan ke persidangan saksi yang melihat terdakwa melakukan perbuatan cabul terhadap korban”, tambah Rio.

Menurut Hery Rio, selain itu ada saksi lain yang menerangkan pernah mengalami hal yang serupa dengan yang dialami korban DCL. “Ini kan dapat menjadi petunjuk bagi majelis hakim, kalau terdakwa memang sudah terbiasa melakukan perbuatan cabul”, katanya.

Mengakhiri keterangannya, pengacara korban yakin JPU dapat mebuktikan dakwaannya, yang dilakukan Terdakwa telah memenuhi unsur Pasal yang didakwakan. Yakni Pasal 290 Ayat (1) jo. Pasal 64 Ayat (1) KUHP atau Pasal 281 ke-2 jo. Pasal 64 Ayat (1) KUHP. “Kami berharap JPU dapat memberikan tuntutan yang maksimal kepada terdakwa, hal ini dikarenakan terdakwa sebagai pengajar tidak mencerminkan perilaku yang baik, serta tidak mengakui dan menyesali perbuatannya melainkan terus membuat cerita-cerita bohong untuk menutupi perbuatanya”, tutupnya. (red)

About admin-hukum1926

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

41 + = 44