Home / Artikel / Istri Yang Menggugat Cerai Tidak Berhak Atas Nafkah Mut’ah dan Iddah

Istri Yang Menggugat Cerai Tidak Berhak Atas Nafkah Mut’ah dan Iddah

Perceraian bagi yang beragama Islam yang diajukan di Pengadilan agama dapat diajukan oleh suami atau istri. Jika diajukan oleh suami dinamakan permohonan talak, sedang jika yang mengajukan adalah istri dinamakan cerai gugat. Dasar hukum perceraian ini antara lain Undang-undang No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam (KHI).

Salah satu akibat dari adanya perceraian yakni pemberian nafkah mut’ah dan iddah oleh suami kepada bekas istri. Tapi dalam hukum perkawinan di Indonesia, pemberian Nafkah Mut’ah dan iddah hanya berlaku bagi perkara permohonan talak yang diajukan oleh pihak suami. Ketentuan ini tidak berlaku jika perceraian diakibatkan gugatan yang diajukan istri.

Nafkah mut’ah adalah pemberian dari bekas suami kepada istri yang ditalak berupa uang atau benda lainnya. Nafkah iddah adalah nafkah wajib yang diberikan kepada istri yang ditalak dan berlangsung 3-12 bulan tergantung kondisi haid istri yang dicerai.

Nafkah iddah dan mut’ah untuk istri yang ditalak ini diatur dalam Pasal 149 dan 158 Kompilasi Hukum Islam. (red)

About admin-hukum1926

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

38 − 33 =